Jika Jogja Punya Heha Sky View, Lutim Punya Land Mark 

0

oplus_0

TAPOJIE.COM — Bus rombongan study wawasan Diskominfo-SP Kabupaten Luwu Timur menuju Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Mengarah ke Jalan Dlingo-Patuk, Patuk, Bukit, Kecamatan Patuk, Selasa, (25/06/24)

 

Jam sudah pukul 21.35 WIB. Bus bergerak pelan. Jalannya menanjak. Berkelok-kelok. “Kita akan mampir di Heha. Menyaksikan pemandangan langit dan koja Jogja dari ketinggian,” kata Bayu, pemandu kegiatan study wawasan.

 

Bus akhirnya tiba di parkiran. Bayu mengatur karcis masuk. Di depan pintu masuk, rombongan disambut pegawai Heha Sky View.  Rombongan melalui ruangan. Terus ke pintu belakang. Rombongan disambut dua robot raksasa. Beberapa pengunjung berswafoto.

 

Sekitar lima meter dari posisi robot, ada dinding menggantung gembok. Ini disebut gembok cinta. Banyak pengunjung berswafoto, bahkan ada pasangan yang ikut memasang gembok di dinding.

Gembok cinta sebenarnya awalnya populer di Paris, tepatnya di Pont des Arts. Ini sebagai lambang komitmen dua sejoli yang sedang berhubungan romantis.

Selain di Paris, Gembok Cinta juga ada di Umeda Sky Building, Jepang. Kemudian ada di  Namsan Park di Seoul, Korea. Dan Makarsteg Bridge terletak di Sungai Salzbach, Kota Salzburg, Austria.

Dari gembok cinta, pengunjung diarahkan berjalan melalui jembatan. Panjangnya sekitar 200-300 meter. Di ujungnya ada panggung. Di bawah jembatan, tersedia meja dan kursi untuk menyantap makanan dan minuman.

 

Kios pedagang juga dibuat instagramable. Bentuknya bermacam-macam, dengan bentuk yang sangat unik. Berwarna warni. Di sebelah barat, juga tersedia panggung. Bahkan ada balon udara. Dari sini, pengunjung dapat menyaksikan keindahan kota Jogja.

Rombongan terpecah. Masing-masing memilih spot berfoto. Sekretaris Dinas Kominfo-SP Lutim, Herpik, mengatakan, Jogja memang unik. Kotanya tertata dengan begitu indah. Namun, Kabupaten Luwu Timur juga punya spot yang mirip dengan Heha.

 

“Kita di Luwu Timur ada Land Mark. Dari atas gunung, kita bisa menyaksikan keindahan kota Malili,” kata Herpik sambil tersenyum.

 

Untuk membuat Land Mark seperti Heha di Jogja sambungnya, butuh anggaran atau investasi. Mulai dari pembangunan infrastruktur jalan hingga bangunan untuk spot berfoto.

 

“Saya yakin, anggaran untuk menyediakan semua ini (Heha) tidak sedikit. Puluhan miliar sepertinya belum cukup. Kalau Jogja bisa, insyaallah Bumi Batara Guru juga bisa. Ini hanya persoalan waktu,” imbuhnya.

 

Hari semakin larut. Jumlah pengunjung semakin banyak. Saat keluar dari Heha, pengunjung disambut dengan dagangan aksesoris, pakaian, tas, dan oleh-oleh khas Jogja. Sungguh konsep yang sangat menarik. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *